Senin, 03 September 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Senin, 30 Juli 2012
Prinsip-Prinsip Islam Tentang Pendidikan
PRINSIP-PRINSIP ISLAM
TENTANG PENDIDIKAN
Guna
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi
Islam 3
Pengampu: Bambang Raharjo
Disusun Oleh:
Tedi Setiadi A. 310 100 071
Luqmanul
Hakim A. 310 100 072
Oktavia
Armi A. A. 310 100 073
Diki
Utomo A.
310 100 075
Muhammad
Zuhri R. A.
310 100 076
Diah
Rahayu M. A.
310 100 079
PENDIDIKAN
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Definisi
mengenai pendidikan memanglah banyak sekali, akan tetapi pengertian pendidikan
tidaklah terlepas dari kata pendidik dan anak didik, karena di dalam pendidikan
faktor keduanya sangatlah berpengaruh dalam dunia pendidikan.
Pendidikan
merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang pendidik yang dengan sadar
bertujuan untuk mengembangkan kepribadian anak didik. Di Indonesia telah
dikembangkan berbagai sistem pendidikan yang berbasis islami yang mana
bertujuan agar anak didik mampu mengembangkan pendidikan yang terarah. Tujuan
pendidikan islam adalah terbentuknya manusia yang baik secara individual dan
sosial, selalu mengabdikan diri kepada Allah Swt.
Pendidik
selalu mengarahkan peserta didik kepada tujuan pendidikan, baik orang tuanya
maupun orang lain. Pendidikan selalu tak terlepaskan dari beberapa faktor
diantaranya tujuan, pendidik, peserta didik, alat-alat dan alam sekitar. Alam
sekitar adalah lingkungan yang ada di sekitar peserta didik, baik lingkungan keluarga,
sekolah maupun masyarakat.
Pendidikan
dalam islam selalu berpegang teguh dengan prinsip-prinsip islam tentang
pendidikan, maka dari itu pendidik selalu mengarahkan, membimbing, dan memimpin
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang
utama.
Kepribadian
yang diharapkan tidaklah wujud kepribadian yang hanya bisa diterapkan pada
keberhasilan anak didik, akan tetapi juga mengacu pada kepribadian islami yang
berprinsip tentang pendidikan rohani yang menjadi tonggak kepribadian utama
dalam pendidikan islam. Dalam makalah ini akan dibahas secara seksama tentang
prinsip-prinsip islam tentang pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pendidikan?
2. Apa saja dasar-dasar pendidikan itu?
3. Apakah yang dimaksud dengan batas-batas
pendidikan?
4. Apakah Catur pusat pendidikan itu?
C. Manfaat
1. Mengetahui pengertian pendidikan.
2. Memahami dasar-dasar pendidikan.
3. Mengerti batas-batas pendidikan.
4. Mengetahui apa saja yang termasuk
catur pusat pendidikan.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan
Pada umumnya pendidikan adalah suatu proses
pelatihan dan pengajaran yang dilakukan dalam lingkup keluarga, sekolah, dan
masyrakat. Sedangkan dalam Islam pendidikan tidak hanya berpusat pada hal-hal
tersebut saja, akan tetapi masjid pun juga berperan sangat penting sebagai
pusat pendidikan.
Kata “pendidikan” dalam bahasa Arab berkaitan dengan
ta’lîm, tarbiyah atau ta‘dîb. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa ayat al-Qur‘ân maupun Hadîts, di antaranya
adalah Q.S. al-Baqarah/2: 31, al-‘Alaq/96: 4 - 5; al-Isrâ‘/17:
24 dan al-Syua’râ‘/26: 18.
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah
kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar!” (Q.S. Al-Baqarah/2:
31).
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. Al-‘Alaq/96: 4 - 5).
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ
ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Q.S. Al-Isrâ‘/17: 24).
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ
سِنِينَ
Fir’aun
menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu
masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu” ( Q.S. Al-Syu’arâ‘/26:
18).
ثَلَاثَةٌ
يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ رَجُلٌ آمَنَ بِالْكِتَابِ الْأَوَّلِ
وَالْكِتَابِ الْآخِرِ وَرَجُلٌ لَهُ أَمَةٌ فَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا
ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ
وَنَصَحَ لِسَيِّدِهِ (رواه أحمد)
Ada tiga orang yang memperoleh pahala dua kali, yaitu seseorang yang
mengimani Kitab yang pertama dan terakhir, seseorang yang memiliki budak
perempuan lalu mendidiknya kemudian menjadi baik pendidikannya, kemudian
memerdekakannya dan mengawininya, dan seorang budak laki-laki yang baik
ibadahnya kepada Tuhannya dan mau memberi nasehat kepada tuannya (H.R. Ahmad).
Menurut Abu Louis Ma’ruf (1986) dalam Shobron
menyebutkan bahwa kata ta’lîm, tarbiyah dan ta‘dîb
berasal dari kata kerja
رَبَّى, عَلَّمَ
dan أَدَّبَ. عَـلَّمَ adalah جَعَلَهَا لَهُ أَمَاَرَةً
يَعْرفُهَاyang
mengandung makna: menjadikan seseorang tahu. رَّبى adalahغَـذَاهُ وَجَعَلَهُ يَرْبُوْ yang mengandung makna: memelihara
dan mengasuh yang cenderung pada
perkembangan jasmani. Sedang أَدَّبَ adalah هَذَّبَهُ وَرَاضَ أَخْلاَ قَهُ yang mengandung arti:
mendidik dan melatih akhlak (Shobron, 2010: 267).
Memahami makna dari masing-masing terma di atas, dapat dikemukakan bahwa
ta’lîm lebih menonjolkan pada aspek pengetahuan kognitif, tarbiyah
lebih menekankan pada pemeliharaan dan asuhan dengan kasih sayang, sedang ta‘dîb
mencakup pengetahuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian secara
konseptual ta‘dîb sudah mencakup pengetahuan (’ilm),
pengajaran (ta’lîm) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah).
Oleh karena itu, ta‘dîb merupakan istilah yang tepat untuk
menunjukkan pendidikan dalam Islam.
Adapun mengenai pengertian istilah “pendidikan” akan dikemukakan
beberapa pemikiran yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan, antara lain:
1. Syed Muhammad al-Naquib al-Attas dalam Shobron (2010: 268) menyatakan
bahwa pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia.
2. Omar Muhammad al-Touny al-Syaebany dalam Shobron (2010: 268)
menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup
manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga
terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual
dan sosial, serta hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup.
3. Ahmad D. Marimba dalam Shobron
(2010: 268) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara
sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik
menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
4. Hasil rumusan Konggres se-Dunia
ke-II pada tahun 1980 tentang Pendidikan Islam (dikutip dalam M. Arifin, 1987:
15) dalam Shobron (2010: 268) menetapkan bahwa pendidikan adalah usaha
mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual,
imajinasi (fantasi), jasmaniah, ilmiah, linguistik, baik secara individual
maupun kolektif, serta mendorong aspek-aspek itu ke arah kebaikan dan ke arah
pencapaian kesempurnaan hidup.
Dengan demikian, keempat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan pendidik untuk mengembangkan
kemampuan anak didik dengan mengarahkan, membimbing dan memimpin perkembangan
jasmani dan rohani agar terbentuk kepribadian yang utama.
B. Dasar-dasar Pendidikan
Dasar ajaran agama Islam adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul yang
disebut dengan al-Qur‘ân dan Hadîts. Hal ini berlandaskan pada salah
satu firman Allah dalam Q.S. al-Nisâ‘/4:
59:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي
شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur‘ân) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada A llah
dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya (Q.S. An-Nisa’: 59).
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا
كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku tinggalkan padamu dua urusan, sekali-kali kamu tidak akan sesat
selama kamu sekalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan
sunnah Nabi-Nya (HR. Malik).
C. Batas-batas Pendidikan
Batas pendidikan yang dimaksud di sini adalah kapan pendidikan dapat
dimulai dan kapan pendidikan bisa diakhiri. Dalam konsep Islam, pendidikan
berlangsung seumur hidup, sebagaimana ungkapan ahli hikmah berikut:
اطْلُبُوْا
الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Tuntutlah
ilmu dari sejak dalam ayunan sampai ke liang lahat (mulai bayi sampai mati).
Dalam dunia pendidikan secara umum, konsep di atas dikenal dengan life
long education. Meski demikian, pada hakekatnya pendidikan baru bisa
dimulai pada saat anak telah mengenal kewibawaan atau pada saat anak telah
mencapai masa kritis atau trotzalter pertama (sekitar usia 2 – 4 tahun), di
mana pada usia ini anak mulai mengenal egonya, dan sadar akan tenaga dan
kemampuan diri.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan sejak anak lahir sampai mencapai masa
kritis adalah merupakan pemeliharaan yang mengarah pada persiapan ke arah
pendidikan yang nyata. Sedang upaya-upaya yang dilakukan sebelum anak
dilahirkan adalah merupakan upaya untuk mempengaruhi kejiwaan anak yang sedang
dikandung, yang merupakan pendidikan tidak langsung.
Islam tidak menghenal “henti dalam pendidikan/belajar”. Selama seseorang
masih diberi kesempatan untuk hidup, maka ia masih berkewajiban untuk belajar,
meski secara non formal ataupun in
formal (belajar di jalur luar sekolah).
D. Catur Pusat Pendidikan
Dalam Islam, pusat-pusat pendidikan dapat digolongkan dalam catur pusat
pendidikan, yaitu keluarga, masjid, sekolah dan masyarakat.
Keluarga adalah pusat pendidikan pertama dan utama. Dikatakan sebagai pusat
pendidikan pertama, karena anak mulai dikenalkan dengan nilai-nilai baik dan
buruk – tentu ukurannya adalah norma-norma Islam – pertama kali dari kedua orang
tuanya atau orang-orang yang dekat, yang berada dalam lingkungan keluarganya. Sedang dikatakan sebagai pusat
pendidikan yang utama, karena yang lebih bertanggung jawab atas pendidikan
peserta didik adalah orang tua mereka, meski mereka sudah mengenal masyarakat,
masjid maupun sekolah.
Masjid, di samping memiliki fungsi keagamaan juga memiliki fungsi sosial (Shobron, 2010: 271).
Sebagai fungsi keagamaan, masjid dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat
lima waktu dan ibadah-ibadah lainnya serta digunakan sebagai tempat kegiatan
syiar Islam. Sedang sebagai fungsi sosial, masjid dijadikan sebagai tempat
musyawarah, tempat menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di tengah-tengah
masyarakat, tempat mempererat hubungan dan ikatan jamaah; di samping sebagai
tempat pendidikan, yaitu tempat mempelajari agama Islam, untuk tempat bertanya
dan memberikan jawaban-jawaban tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh orang
Islam.
Sekolah atau madrasah adalah lembaga pendidikan formal. Lembaga-lembaga
pendidikan jenis ini didirikan bagi peserta didik dan dirancang secara
berjenjang dan berkesinambungan, baik dari tingkat SD/MI, SLTP/MTs, SLTA/MA,
sampai tingkat PT/Jâmi’ah.
Masyarakat, yaitu lembaga-lembaga pendidikan yang diselenggarakan langsung oleh
masyarakat, antara lain dalam bentuk kursus-kursus, pelatihan-pelatihan, dan
lain sebagainya. Pendidikan yang diselenggarakan dalam lembaga ini biasanya
tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan, dan diadakan dalam rangka memenuhi
kebutuhan masyarakat, seperti pelatihan mubaligh/mubalighat, pelatihan khotib
Jum’at, pelatihan kepemimpinan/manajemen, kursus tilâwah, dan
lain sebagainya. Lembaga ini sering
disebut dengan pendidikan non formal.
Keempat pusat pendidikan di atas diharapkan dapat bekerja sama dengan
baik dan bisa saling mendukung untuk tercapainya tujuan pendidikan.
SIMPULAN
Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan pendidik untuk
mengembangkan kemampuan anak didik dengan mengarahkan, membimbing dan memimpin
perkembangan jasmani dan rohani agar terbentuk kepribadian yang utama.
Pendidikan dalam Islam adalah pendidikan yang mendasarkan pada ajaran agama
Islam, maka dasar pendidikan dalam Islam yang utama adalah al-Qur‘ân dan Hadîts.
Batas-batas pendidikan adalah kapan pendidikan dapat dimulai dan kapan
pendidikan bisa diakhiri.
DAFTAR PUSTAKA
Shobron, Sudarno. dkk. 2010. Studi Islam 3. Surakarta: Lembaga
pengembangan Ilmu-Ilmu Dasar.
Senin, 23 Juli 2012
RENUNGKANLAH...!!!
Pada beberapa bulan yang lalu., atau mingkin setahun yang lalu tepatnya pada bulan Ramadhan tahun yang lalu. Apakah Qta masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan yang akan datang..?? (atau lebih tepatnya bulan Ramadhan tahun ini).
Bersyukurlah karena Qta masih dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Masih diberikan kesempatan untuk merasakan indahnya bulan Ramadhan yang penuh dengan maghfiroh ini. Karena banyak diantara teman-teman Qta., atau mungkin saudara dan kerabat dekat Qta yang mereka tidak diberikan kesempatan untuk merasakan bulan Ramadhan tahun ini. Banyak juga yang masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan ni., tetapi mereka tidak bisa merasakan nikmatnya bulan Ramadhan. Yaitu mereka yang sakit dan tidak memungkinkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan ini. Sehingga mereka harus menggantinya di hari yang lain.
Qta semua tidak pernah tahu., kapan Qta akan berpulang ke hadapan-Nya. Tidak ada yang bisa menjamin untuk Qta masih bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Jika sudah sampai waktu Qta., maka tak kan ada seorang pun yang mampu untuk mencehahnya ataupun menundanya sedetik pun.
Untuk itu., maksimalkan bulan Ramadhan tahun ini kawan..!! Jangan biarkan momen Ramadhan ini akan berlalu dengan sia-sia.
Karena bisa jadi., INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR DALAM HIDUP KITA..
Rabu, 18 Juli 2012
LASKAR PELANGI (Andrea Hirata) Dalam Tinjauan Struktural
LASKAR PELANGI
Karya: Andrea Hirata
Dalam Tinjauan Struktural
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Fiksi
Pengampu: Dr. Ali Imran Al-Ma’ruf, M. Hum.
Disusun Oleh :
Nama :Luqmanul Hakim
NIM :A 310 100 072
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
Identitas Novel Laskar Pelangi
Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Kota Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2011
Tebal halaman : 545 halaman
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Kota Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2011
Tebal halaman : 545 halaman
Harga : Rp.69.000,-
Sinopsis Novel
Di Desa
Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Hari pertama pembukaan kelas baru
di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa,
Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang
terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang
mendaftar, sekolah akan ditutup. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara
pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak
berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di
sekolah kecil itu.
Sembilan siswa yang
datang yaitu, Ikal, Mahar, Lintang, Kucai, Syahdan, Borek A Kiong, Trapani, dan
Sahara. Pak Harfan dan Bu Mus hampir putus
asa dan Pak Harfan pun telah menyiapkan naskah pidato penutupan sekolah itu.
Tiba – tiba seorang ibu datang untuk mendaftarkan anaknya yang mengalami
keterbelakangan mental, karena sekolah luar biasa hanya ada
di bangka dan mereka tidak memiliki biaya untuk ke sana, anak yang
menyelamatkan sekolah Muhammadiyah itu bernama Harun. Akhirnya sekolah itu pun
tidak jadi ditutup.
Kegiatan
belajar mengajar mereka dilakukan di sekolah yang sangat memprihatinkan.
Misalnya, ruang kelas yang beralaskan tanah, beratap
bolong-bolong sehingga bocor saat hujan, papan tulis yang berlubang sehingga
terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama, dan saat malam hari dipakai untuk
menyimpan ternak. Dan begitu juga dengan kesepuluh anak Laskar Pelangi, yaitu nama
yang diberikan oleh Bu Mus karena kesenangan mereka terhadap pelangi. Keadaan mereka
juga memprihatinkan, bersekolah tanpa alas kaki, tidak memakai
seragam, dan perjuangan lintang seorang anak
pesisir yang jenius yang menempuh perjalanan 80 km pulang pergi dari rumahnya
ke sekolah demi mendapatkan ilmu. Pulang pergi untuk
memuaskan dahaganya akan ilmubahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu
Negeri di akhir jam sekolah.
Suka duka
mereka dimulai dari, penempatan tempat duduk yang diatur oleh Bu Mus,
perkenalan mereka pada hari pertama bersekolah, kejadian bodoh
yang dilakukan oleh Borek yang dijuluki Samson karena badannya yang besar,
pemilihan ketua kelas yang di menangkan oleh Kucai, pengalaman cinta pertama
ikal, kemenangan SD
muhammadiyah mengalahkan juara bertahan, yaitu sekolah PN Timah (Perusahaan
Negara Timah) pada lomba karnaval 17 Agustus yang dipimpin oleh Mahar dan lomba
cerdas cermat yang dipimpin oleh Lintang.
Pada suatu
hari, anak dari orang kaya yang bersekolah di sekolah PN, pergi dari rumahnya.
Ayahnya mengerahkan seluruh upaya untuk mencarinya. Setelah
anaknya di temukan, ayahnya berjanji akan menuruti semua
kemauan anaknya, dan kemauan anaknya adalah pindah ke
sekolah Muhammadiyah. Anak itu brnama Flo, dan ia hanya
ingin duduk di sebelah Mahar, dan keputusannya tidak
dapat di ganggu gugat. Dengan demikian anggota Laskar
Pelangi bertambah satu menjadi 11 anak.
Kejadian yang
paling menyedihkan yang dialami oleh anggota laskar pelangi ketika mereka
kehilangan dua orang yang mereka sayangi, yaitu Pak Harfan yang meninggal dunia
dan Lintang, siswa paling jenius anggota Laskar Pelangi,harus berhenti sekolah
karena ayahnya telah meninggal dunia dan iya harus menghidupi keluarganya,
karena iya anak laki-laki tertua. Dilanjutkan 12 tahun kemudian, saat Ikal
kembali ke kampungnya dari sekolahnya yang mendapat bea siswa di University de
Paris, Sorbonne untuk menyaksikan peluncuran buku oleh Mahar. Walaupun pada
awal tahun 90-an, sekolah Muhammadiyah itu akhirnya harus ditutup karena tidak
dapat mebiayai sekolah itu sendiri. Tetapi, sekolah itu telah menghasilkan
murid-murid yang sukses. Lima tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid
dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara
berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal, Lintang, dan Mahar
dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah
mereka.
Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan
kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang
hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di
ujung paling Selatan Sumatera sana.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan
buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini
memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi
kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki
definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah
miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak
berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita
bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.
Fakta Cerita
A.
Tokoh-tokoh
yang muncul dalam novel “Laskar Pelangi”
1. Ikal : Tokoh 'aku' dalam cerita ini. Ikal yang
selalu menjadi peringkat kedua memiliki teman sebangku bernama Lintang, yang
merupakan anak terpintar dalam Laskar Pelangi. Ia berminat pada sastra,
terlihat dari kesehariannya yang senang menulis puisi. Ia menyukai A Ling,
sepupu dari A Kiong, yang ditemuinya pertama kali di sebuah toko kelontong
bernama Toko Sinar Harapan. Pada akhirnya hubungan mereka berdua terpaksa
berakhir oleh jarak akibat kepergian A Ling ke Jakarta untuk menemani bibinya.
2. Lintang: Teman sebangku Ikal yang luar biasa
jenius. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan
harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Lintang telah menunjukkan
minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada disekolah. Ia selalu
aktif didalam kelas dan memiliki cita-cita sebagai ahli matematika. Sekalipun
ia luar biasa pintar, pria kecil berambut merah ikal ini pernah salah membawa
peralatan sekolahnya. Cita-citanya terpaksa ditinggalkan agar ia dapat bekerja
untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.
3. Sahara: Satu-satunya gadis dalam anggota Laskar
Pelangi. Sahara adalah gadis keras kepala berpendirian kuat yang sangat patuh
kepada agama. Ia adalah gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja
kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan
air dalam termosnya.
4. Mahar: Pria tampan bertubuh kurus ini memiliki
bakat dan minat besar pada seni. Pertama kali diketahui ketika tanpa sengaja Bu
Muslimah menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara.
Pria yang menyenangi okultisme ini sering dipojokkan teman-temannya. Ketika dewasa,
Mahar sempat menganggur menunggu nasib menyapanya karena tak bisa ke manapun
lantaran ibunya yang sakit-sakitan. Akan tetapi, nasib baik menyapanya dan ia
diajak petinggi untuk membuat dokumentasi permainan anak tradisional setelah
membaca artikel yang ia tulis di sebuah majalah, dan akhirnya ia berhasil
meluncurkan sebuah novel tentang persahabatan.
5. A Kiong: Anak Hokian. Keturunan Tionghoa ini
adalah pengikut sejati Mahar sejak kelas satu. Baginya Mahar adalah suhunya
yang agung. Kendatipun pria kecil ini berwajah buruk rupa, ia memiliki rasa
persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun
kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua
saling mencintai satu sama lain.
6.
Syahdan: Anak nelayan yang ceria
ini tak pernah menonjol. Kalau ada apa-apa dia pasti yang paling tidak
diperhatikan. Misalnya ketika bermain sandiwara, Syahdan hanya kedapatan jadi
tukang kipas putri dan itupun masih banyak kesalahannya. Syahdan adalah saksi
cinta pertama Ikal, ia dan Ikal bertugas membeli kapur di Toko Sinar Harapan
semenjak Ikal jatuh cinta pada A Ling. Syahdan ternyata memiliki cita-cita yang
tidak pernah terbayang oleh Laskar Pelangi lainnya yaitu menjadi aktor. Dengan
bekerja keras pada akhirna dia menjadi aktor sungguhan meski hanya mendapatkan
peran kecil seperti tuyul atau jin... Setelah bosan, ia pergi dan kursus
komputer. Setelah itu ia berhasil menjadi network designer.
7.
Kucai: Ia adalah ketua kelas sepanjang generasi sekolah “Laskar
Pelangi”. Ia menderita rabun jauh karena kurang gizi, dan penglihatannya
mellenceng dua puluh derajat. Laki-laki ini sejak kecil bisa menjadi politikus
dan akhirnya terwujud ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.
8.
Borek: Pria besar maniak otot. Borek selalu menjaga citranya sebagai
laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di took milik A Kiong dan
Sahara.
9. Trapani: Pria tampan yang pandai dan baik hati
ini sangat mencintai ibunya. Apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi
ibunya, seperti misalnya ketika mereka akan tampil sebagai band yang dikomando
oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tak ditonton ibunya. Cowok yang
bercita-cita menjadi guru ini akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa karena
ketergantungannya terhadap ilmunya.
10. Harun: Pria yang memiliki keterbelakangan
mental ini memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka
ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan
tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan
senang sekali menanyakan kapan libur lebaran pada Bu Muslimah. Ia menyetor 3
buah botol kecap ketika disuruh mengumpulkan karya seni kelas enam.
11. A Ling: Cinta pertama Ikal yang merupakan
saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah
dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.
12.
Bu Muslimah: Dia adalah Ibunda guru “Laskar Pelangi”. Wanita lembut ini adalah
pengajar pertama “Laskar Pelangi” dan merupakan guru yang paling berharga bagi
mereka.
13.
Pak Harfan: Nama lengkap K.A.Harfan Efendi Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor.
Beliau adalah kepala sekolah Muhammadiyah yang sangat baik hati dan penyabar
meski murid-murid awalnya takut melihatnya.
14.
Flo: Nama aslina adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal
dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan
sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal
pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih
tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia
melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
B.
Alur
Novel ini menggunakan alur maju, karena dalam cerita ini tidak
terdapat kilas balik sehingga membuat para pembaca penasaran apa yang terjadi
di kisah selanjutnya. Buku novel ini merupakan Tetralogi.
C.
Latar
1.
Latar Tempat
Terdapat
beberapa latar tempat dalam novel ini, antara lain sebagai berikut.
a.
Sekolah
Muhammadiyah
b.
Gedung Sekolah
PN
c.
Sebuah jalan
pinggir rawa
d.
Pohon filicium
e.
Toko Sinar Harapan
f.
Halaman
kelenteng
g.
Podium
kehormatan
h.
Pangkalan punai
i.
Tempat lomba
cerdas cermat
j.
Masjid
Al-Hikmah
k.
Gunung Semulur
l.
Di atas perahu
m.
Pulau Lanun
n.
Bioskop
o.
Zaal batu
2.
Latar Waktu
Terdapat beberapa waktu yang menjadi latar waktu dalam novel ini
antara lain sebagai berikut.
a.
Menjelang
maghrib
b.
Setelah shubuh
c.
Pagi hari
d.
Sore hari
e.
Siang hari
3.
Latar Sosial
Sedangkan untuk latar sosial ada beberapa keadaan sebagai berikut.
a.
Menyenangkan
b.
Menyedihkan
c.
Menegangkan
D.
Sarana
Cerita
1.
Judul
Judul “Laskar Pelangi” itu unik dan menarik serta menjadikan rasa
penasaran para pembaca dan mampu menggambarkan atau mewakili seluruh cerita.
2.
Sudut Pandang
Memakai kata ganti orang pertama tunggal atau memakai akuan sertaan
karena dalam penceritaan novel penulis menggunakan kata Aku.
3.
Gaya dan Nada
a.
Bahasa
Bahasa
yang digunakan tetap bahasa Indonesia tetapi tidak jarang kita jumpai bahasa
daerah yang dimana tempat kejadiannya adalah Belitung, yaitu pulau terpencil
yang ada di Sumatra.
b. Nada
Penulis
menggunakan berbagai nada dalam mengungkapkan pikiran, seperti marah, sedih,
mengharukan, dan bahagia.
E.
Tema
Persahabatan sepuluh anak yaitu Ikal,
Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satu-satunya
wanita di kelas mereka, Sahara dari orang kecil yang mempunyai cita-cita yang
tinggi dengan bersekolah di pendidikan rakyat kecil Sekolah Muhamadiyah.
F.
Amanat
1. Ajaran yang
berpegang teguh pada agama serta kerja keras dan tekad yang pantang menyerah
dalam mencapai cita-cita.
2.
Janganlah
menyerah, hiraukan orang yang menggangumu, teruslah berjalan jika menurutmu itu
benar.
3. Dari bersekolah
dengan sungguh-sungguh cita-cita akan tercapai walaupun dengan usaha dan
perjuangan yang sulit.
Langganan:
Postingan (Atom)












