Selasa, 17 Juli 2012
Senin, 16 Juli 2012
Sebuah Parade Ukhuwah
Sebuah Parade Ukhuwah
Sebuah kisah nyata seperti yang di utarakan oleh Drs.
Umar Ali Yahya dan Syarifuddin. Ukhuwah intinya 'MEMBERI'. Memberi tanpa
mengharapkan kata terima kasih dan tidak mengharap balasan, artinya mengharap
balasan hanya dari Allah SWT.
Ukhuwah dan keimanan seperti dua sisi mata uang yang tak
terpisahkan, maka dari itu jika salah satu tidak ada maka yang lainnya pun
sirna. Tingkat ukhuwah terendah ialah bersih hati dan berbaik sangka pada
saudaranya sedangkan tingkat ukhuwah tertinggi ialah mendahulukan saudaranya
daripada dirinya [Drs. Umar Ali Yahya].
Alkisah, disebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Bangka
Jakarta Selatan, berkumpul sekelompok anak-anak sekolah yang sedang istirahat
mengerumuni abang penjual rujak, rupanya siang itu anak-anak sedang membeli
rujak. Diantara sekumpulan anak-anak tersebut terdapatlah seorang anak bernama
Ubaidurrahman (Ubay) yang saat itu ingin sekali membeli rujak namun uangnya
ketinggalan di kelas. Keinginan Ubay itu ditangkap oleh temannya Hamad tanpa
terlewat sedikitpun. Saat itu Hamad pun sebetulnya ingin membeli rujak juga,
namun uangnya tinggal seribu rupiah saja, dan itupun untuk ongkos pulang.
'Pake uangku saja dulu Ubay,' seru Hamad pada Ubay yang
terlihat sangat ingin sekali membeli rujak. 'Terima kasih, nanti aku ganti uangnya
di kelas ya,' jawab Ubay riang.
Begitulah, Hamad meminjamkan uangnya yang hanya tinggal seribu itu pada Ubay untuk membeli rujak dengan harapan nanti akan dibayar di kelas. Ketika sampai di kelas ternyata Ubay tidak membayar hutangnya karena ternyata uangnya sudah terpakai untuk yang lain.
Begitulah, Hamad meminjamkan uangnya yang hanya tinggal seribu itu pada Ubay untuk membeli rujak dengan harapan nanti akan dibayar di kelas. Ketika sampai di kelas ternyata Ubay tidak membayar hutangnya karena ternyata uangnya sudah terpakai untuk yang lain.
'Masya Allah, Hamad aku lupa, uangnya tadi sudah
dipakai, besok saja ya...' Hamad menatap Ubay sejenak dan kemudian mengangguk
dengan senyum khasnya. Dalam keadaan tidak ada uang sepersen pun, bahkan untuk
ongkos pulang sekalipun, Hamad masih tersenyum dan menjalani sisa harinya
dengan kegembiraan.
Bel sekolah telah berbunyi, menandakan waktunya untuk
pulang. Tidak terkecuali dengan Hamad, ia pun pulang meskipun tidak seperti
hari-hari sebelumnya. Kali ini dia terlihat berjalan kaki, ya.. berjalan kaki
dari sekolahnya di Bangka -JakSel sampai
rumahnya di Jatibening-Bekasi, yang biasa memerlukan waktu 1 jam jika ditempuh
dengan kendaraan.***
'Hamad kok belum pulang ya Bu? Aku mulai khawatir, coba
telepon teman-temannya barangkali memang sedang ada acara di sekolahnya,' pinta
Ust. Zufar pada istrinya.Ust. Zufar merupakan ayah dari Hamad. Beliau ialah
sosok yang ramah, nama lengkapnya ialah Ust. Zufar Bawazier, Lc, dosen LIPIA
dan juga pengurus sebuah Partai Islam di Indonesia.
Saya sempat mengenalnya ketika beliau mengisi sebuah
seminar di Bandung
dimana saya terlibat sebagai panitia. Saat itu, beliau kami sediakan tiket
pulang dengan Kereta Api untuk jadwal kepergian jam 13.00. Betapa kagetnya saya
ketika teman saya memberitahukan bahwa Ust. Zufar sedang berdiri menunggu
angkutan umum yang saya yakin beliau tidak hafal rutenya, untuk menuju stasiun.
Lebih parah lagi waktu telah menunjukan pukul 12.50, yang artinya hanya 10
menit lagi kereta akan segera pergi.
Saya segera mengambil motor untuk mengantarnya menuju
stasiun, saya tidak habis fikir mengapa Ust. Zufar tidak memberi tahu panitia
kalau keadaannya seperti ini, atau memang panitianya yang tidak memperhatikan,
pikirku. Aku susuri jalanan kota Bandung dengan kecepatan
tinggi, bahkan sempat melanggar beberapa rambu lalu lintas, aku tak peduli,
saat itu fikiranku hanya mengantar Ust. Zufar agar tidak ketinggalan kereta
menuju Jakarta .
Dan memang akhirnya Ust. Zufar bisa mendapatkan
keretanya, walaupun harus dengan berlari setelah sebelumnya masih sempat
menyalamiku sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Itulah
kenangan terakhir dan satu-satunya pertemuanku dengan Ust. Zufar. 'Kriiing...'
telepon di rumah Pak Umar berdering. Telepon itu ternyata dari Ust. Zufar yang
kemudian memberitahukan kepada Pak Umar selaku kepala sekolah madrasah, bahwa
anaknya saat itu pulang malam sekali. Lalu Ust. Zufar pun menjelaskan penyebab
anaknya pulang terlambat.
Esok harinya, Pak Umar memanggil Hamad dan Ubay ke
Kantor. Tidak ditemukan wajah kesal atau kecut dari Hamad, suatu pancaran
ketenangan jiwa dari seorang anak yang masih bersih hatinya. Lalu Pak Umar
berkata pada Ubay, 'Lihatlah, sepatu temanmu rusak karena kamu menyia-nyiakan
kebaikannya...' Pak Umar terkenal akan kebijaksanaannya, beliau digelari 'Pembina
Sejati' oleh teman saya di Bandung
yang pernah merasakan sentuhannya pula. Saya beruntung pernah menjadi binaanya
selama setahun. Waktu yang cukup singkat untuk sebuah pembinaan yang bertajuk
Ta'lim Rutin Kader Activis. Namun waktu yang singkat itu telah cukup baginya
untuk meniup kuncup dalam diri ini sehingga mekar menjadi bunga.
Sepatu tua Hamad terlihat rusak, yang memang sebelumnya
sudah lusuh. Ubay menangkap semua itu tanpa terlewat sedikitpun. 'Maafkan aku
ya Hamad, ini pakai saja sepatuku, aku punya dua sepatu kok di rumah.' Begitulah
kisah mereka berdua, parade ukhuwah mereka begitu mempesona setiap orang yang
melihatnya.
Kamis, 12 Juli 2012
PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
1. Motivator
: membangkitkan motivasi belajar siswa
Motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi ada dua, yaitu
motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik .
• Motivasi Intrinsik.
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan
dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri .
• Motivasi Ekstrinsik.
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah
karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan
keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Ada beberapa cara yang
dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu sebagai
berikut.
1.
Menjelaskan
tujuan belajar ke peserta didik.
2.
Berikan
hadiah untuk siswa yang berprestasi.
3.
Guru berusaha
mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi
belajarnya.
4.
Siswa yang
berprestasi diberikan penghargaan atau pujian.
5.
Pemberian
hukuman kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
6.
Membentuk
kebiasaan belajar yang baik.
7.
Membantu
kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
8.
Menggunakan
metode yang bervariasi, dan
9.
Menggunakan
media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.
Narasumber : guru sebagai sumber belajar
Peran
guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai
sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Dikatakan
guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik,
sehingga ia benar-benar berperan sebagai sumber belajar bagipeserta didiknya.
3. Fasilitator : guru berperan dalam memberikan
pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran
sebelum
proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya :
bagaimana caranya agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran?
Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha
sungguh-sungguh ingin agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan
baik.
bagaimana caranya agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran?
Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha
sungguh-sungguh ingin agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan
baik.
4. Evaluator : guru berperan untuk mengumpulkan data
atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
Terdapat
dua fungsi dalam memerankan perannya.
Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam
menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru
dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.
suatu kekuatan sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh.
Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam
menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru
dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.
suatu kekuatan sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh.
5. Pelaksanaan Remidial : program perbaikan bagi siswa
yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar
Program
Remedial (perbaikan) dimaksudkan adalah untuk memberikan bantuan pertolongan
khusus kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan penguasaan pada
Ulangan Harian (Ulhar) atau Ulangan Blok yang ditempuh pertama kali.
Maksudnya siswa tersebut belum mencapai angka KKM yang ditetapkan oleh sekolah
seperti yang disebutkan di atas. Siswa yang belum tuntas harus mengikuti
Program Remidial, sedang yang dinyatakan tuntas dapat diberikan Program
Pengayaan atau Program Percepatan.
Minggu, 08 Juli 2012
NAWANG WULAN (Subagio Sastrowardoyo); Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik
NAWANG WULAN
Karya: Subagio Sastrowardoyo
Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Puisi
Pengampu: Adyana Sunanda
Disusun oleh:
Nama : Luqmanul Hakim
NIM : A 310 100 072
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Kegiatan mentelaah sebuah karya
sastra merupakan suatu cara untuk mengetahui seluk-beluk dalam suatu karya
tersebut. Dalam teori pengkajian karya sastra puisi, terdapat beberapa tinjauan
ataupun pendekatan yang bisa dilakukan. Diantara tinjauan-tinjauan tersebut
adalah dengan tinjauan struktural dan tinjauan semiotik.
Tinjauan struktural atau pendekatan
analitis yaitu suatu pendekatan yang mencoba memahami gagasan, cara pengarang
menampilkan gagasan itu, dan memahami unsur-unsur intrinsik dan mekanisme
hubungan dari setiap unsur tersebut. Sehingga mampu membangun keselarasan dan
kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk dan maknanya.
Sedangkan semiotik merupakan salah
satu pendekatan yang sedang diminati oleh para ahli sastra dewasa ini, tidak
terkecuali para peminat sastra di Indonesia. Akhir-akhir ini semakin banyak
diterbitkan tulisan yang menggunakan model dan konsep dari semiotika.
Semiotik menurut Sudjiman (1996)
adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara
berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan
penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Sudjiman, 1996: 5).
Semiotika adalah ilmu tanda; istilah
tersebut berasal dari bahasa Yunani semieon yang berarti “tanda”. Tanda
terdapat dimana-mana: kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu
lalu lintas, bendera, dan sebagainya.
PEMBAHASAN
A.
Nawang Wulan dalam Tinjauan Struktural.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.
1.
Struktur
Lahir:
a.
Diksi
/ Diction
·
Jangan
bicara denganku dengan bahasa dunia
·
Jangan
sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
·
Sambut
aku dengan bunga
·
Itu
darah dari duka dan cinta
·
Tapi
jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
·
Itu
darah yang mengalir dari duka dan cinta
b.
Imaji
/ Imagery
·
Jangan
bicara denganku dengan bahasa dunia (Imaji dengaran)
·
Jangan
sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa (Imaji rabaan)
·
Bunga
buat kekasih yang manis merindu (Imaji cecapan)
·
Lalu
panggil aku turun di teratakmu (Imaji dengaran)
c.
Kata
Konkret
·
Jangan
bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
·
Jangan
sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
·
Sambut
aku dengan bunga
·
Lalu
panggil aku turun di teratakmu
d.
Bahasa
Figuratif / Majas / Gaya Bahasa
·
Jangan
bicara denganku dengan bahasa dunia (Sinekdok/Totemproparte)
·
Itu
darah dari duka dan cinta (majas Personofikasi)
·
Bunga
buat maut yang diam menunggu (majas Personofokasi)
·
Ladang
minta digenang (majas Personifikasi)
e.
Irama
& Rima / Rythme & Rime
·
A-A-A-A
·
A-A-B-B
·
A-A-B-A
2.
Struktur
Bathin:
a.
Tema
Suatu penipuan dari laki-laki agar mendapatkan wanita yang
disukainya, walaupun pada akhirnya penipuan itu terbongkar.
b.
Rasa
Rasa
yang ingin disampaikan penyair dalam puisi ini adalah perasaan yang senang dan
penuh kasih sayang, walaupun pada awalnya dan akhirnya diliputi oleh
penyesalan.
c.
Nada
Penyair
memiliki sikap yang lembut dalam puisi ini. Menyatakan ungkapan untuk dikasihi
dan disayangi, juga untuk menyayangi.
d.
Amanat
Untuk
menadapatkan sesuatu yang baik, hendaknya kita juga menggunakan cara-cara yang
baik juga. Janganlah menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang kita
inginkan tanpa mengindahkan yang lain.
B.
Nawang Wulan dalam Tinjauan Semiotika.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.
·
Analisis
Tinjauan ini diawali dengan
memperhatikan judul sajak tersebut. Karena judul ikut berperan dalam
menjelaskan isi sajak. Judul adalah indeks bagi teks karena merupakan nama
teks yang bersangkutan. Setelah membaca judul “Nawang Wulan”, segera saja
timbul pertanyaan, apa itu Nawang Wulan? Atau mungkin siapa itu Nawang Wulan?
Kata “Nawang Wulan” dapat ditinjau dari makna denotatifnya, yaitu “nama seorang
bidadari dalam cerita Jaka Tarub”. Kisah dari Nawang Wulan tersebut ternyata
dapat ditemukan dalam sajak, jika kita memperhatikan larik-larik berikut.
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Kata “jangan” sangat identik dengan
maksud larangan ataupun pencegahan dari suatu tindakan. Akan tetapi jata
“jangan” dalam sajak ini lebih bermakna pada permohonan untuk melakukan suatu
hal pada sesuatu dengan alasan dan tujuan tertentu. Dan makna disini adalah
suatu permohonan untuk tidak bercakap dan berbicara menggunakan bahasa dunia,
karena mungkin bahasa dunia itu dinilai kasar dan cenderung tidak baik jika
dibandingkan dengan bahasa di surga yang semua serba sempurna. Disamping itu
juga terdapat permohonan untuk tidak menyentuh yang disini bermakna menjamah
ataupun menggauli. Karena mungkin tubuh orang di dunia ini penuh dengan dosa.
Berbeda dengan para penghuni surga yang masih terjaga kesuciannya.
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Pada potongan sajak ini kata “sambut
aku dengan bunga” bukanlah berarti minta untuk disambut dengan menggunakan
bunga, akan tetapi lebih mengarah pada suatu permohonan untuk menerima
kedatangannya dengan kebaikan dan segala kemurahan hati, diperlakukan dengan
baik, dan tidak disakiti ataupun yang lainnya. Karena itu merupakan suatu yang
sangat berarti dalam kehudupan dan lebih dari segalanya. Apalah arti kesenangan
dan kesuksesan tanpa cinta dan kasih sayang, tentunya hidup akan jadi serasa
tak ada artinya.
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Kata “bunga” pada bari
pertama dan kedua dalam potongan sajak di atas bisa diartikan sebagai suatu
wujud kasih sayang dan cinta yang mendalam. Yaitu kasih sayang dan cinta untuk
jiwa baru yang terlahir ke dunia yang fana dari alam lain yaitu alam rahim.
Karena tentunya jiwa yang terlahir ke dunia pastilah membawa suatu amanah yang
berat. Hal tersebut juga bisa diperuntukkan pada baris yang kedua yaitu “Bunga
buat kekasih yang manis merindu”, yaitu suatu penghargaan kepada sang
kekasih karena kesabaran dan kesetiaannya pada pujaan sang hati dengan segala
kerinduan yang disimpannya. Yaitu segala kasih sayang dan cinta yang
diperuntukkan pada sang kekasih.
Sedangkan untuk kata “Bunga”
pada baris ketiga yang berbunyi “Bunga buat maut yang diam menunggu”
pada potongan sajak di atas tidaklah bisa disamakan dengan makna kata “bunga”
seperti pada baris yang sebelumnya. Makna kata “bunga” di sini lebih
mengarah pada penghargaan dan suatu penghormatan bahkan suatu wujud penantian
untuk maut atau kematian yang kelak pasti akan datang.
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Pada baris pertama potongan sajak
ini bermakna pada himbauan untuk memperhatikan sang buah hati ketika dia
menangis kelaparan, kapanpun dan bagaimanapun itu waktu dan keadaannya. Hal ini
dikarenakan anak adalah suatu anugerah sekaligus sebagai amanah dari yang Maha
Kuasa. Sedangkan pada baris kedua potongan sajak tersebut “Tapi jaga ladang yang
baru sehari digaru” adalah suatu pernyataan yang mengingatkan agar jangan
melupakan ladang sebagai sumber penghidupan. Karena ketika ladang tidak
menghasilkan padi, maka padi yang di lumbung akan berangsur-angsur habis dan
hal ini lah yang menjadikan Nawang Wulan menemukan selendangnya yang
disembunyikan oleh Jaka Tarub dan menjadikannya pergi meninggalkan anak dan
suaminya untuk kembali ke khayangan. Walaupun pada akhirnya bangsa khayangan tidak
bisa menerimanya kembali karena dia telah ternoda oleh manusia di bumi.
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Ketika sang buah hati menangis, agar
berhenti dari tangisannya salah satu cara adalah dengan di adalah gendong dan
titimang-timang. Hal ini adalah mengkisahkan ketika Nawang Wulan sudah pergi
meninggalkan suami dan bayinya. Sebelum kepergiannya Nawang Wilan berpesan
kepada suaminya agar ketika nanti bayinya menangis ataupun minta susu,
hendaknya Jaka Tarub memanggil Nawang Wulan untuk menyusui bayinya. Hal ini ada
sangkut pautnya dengan baris kedua potongan syair di atas yang berbunyi “Lalu
panggil aku turun di teratakmu”. Itu ngartikan tanda bahwa Nawang Wulan
meminta suaminya Jaka Tarub untuk memanggilnya turun ketika bayinya menangis
minta susu.
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.
Kata “Dengan bunga” ini
bukanlah menggunakan bunga seperti yang sudah dibahas di atas. Tetapi merupakan
satu isyarat bahwa dalam memperlakukannya adalah dengan perlakuan yang mulia,
penuh dengan kasih sayang dan cinta. Sedangkan dalam kalimat “Itu darah yang
mengalir dari duka dan cinta” ini bisa diartikan sebagai hal yang mutlak
adanya. “Dari duka dan cinta” berarti perasaan cinta dan kasih sayang
ini akan tetap selalu ada dalam setiap suka dan duka. Ketika senang dan bahagia
ini akan tetap ada, demikian juga ketika dalam keaadaan duka dan susah hal ini
juga tidak akan hilang.
PENUTUP
Daftar
Pustaka
Sastrowardoyo,
Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sudjiman,
Panuti, Aart Van Zoest. 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Rabu, 04 Juli 2012
Hukum Merayakan Malam Nishfu Sya'ban dan Puasa Pada Siangnya
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (QS. Al-Syuura: 21)
Dalam Shahihain, dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, dari NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam: "Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak."
Dan dalam Shahih Muslim, dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam khutbah Jum'at: "Amma Ba'du: sesugguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, dan seburuk-buruk urusan (Islam) adalah yang diada-adakan. Maka setiap perkara bid'ah adalah sesat."
Banyak sekali ayat dan hadits yang semakna dengan ini. Semuanya menunjukkan dengan jelas, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan lengkap ajaran Islam untuk umat ini dan telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk mereka. Sehingga tidaklah diwafatkan Nabi-Nya 'Alaihis Shalaatu Wassalam kecuali setelah benar-benar menyampaikan semua risalah dan menerangkan syariat Allah –baik yang berbentuk perkataan dan perbuatan- kepada umat ini.
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan, setiap perkara yang dibuat-buat manusia sesudah beliau lalu dinisbatkan kepada Islam –baik yang berbentuk perkataan dan perbuatan- maka itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah tertolak, yakni dikembalikan kepada pembuatnya, walaupun niatnya baik.
Para sahabat Nabi ridhwanullah 'Alaihim benar-benar memahami persoalan ini. Begitu juga ulama-ulama sesudah mereka. Semuanya mengingkari perkara bid'ah dan memperingatkan umat dari bahayanya. Sebagian ulama sangat konsen terhadap sunnah dan mengingkari perkara bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhah, Imam al-Thurthusyi, Abu Syamah, dan ulama lainnya.
. . . setiap perkara yang dibuat-buat manusia sesudah beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu dinisbatkan kepada Islam maka itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah tertolak, yakni dikembalikan kepada pembuatnya, walaupun niatnya baik. . .
Di antara perkara bid'ah yang dibuat orang adalah perayaan malam Nishfu Sya'ban dengan mendirikan shalat khusus –biasa disebut shalat Bara'ah- dan mengistimewakan siangnya dengan puasa. Padahal, tidak ada dalil shahih yang bisa dijadikan sandaran amal ini. Terdapat beberapa dalil yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya'ban, tapi statusnya didhaifkan oleh mayoritas ulama. Di antaranya;
Dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu 'Anhu secara marfu', berkata,
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا
"Apabila tiba malam nishfu Sya'ban maka berdirilah shalat pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya." (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1388, dan ini adalah hadits Maudlu'. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Dhaif Sunan Ibni Majah, "Lemah sekali atau maudlu –palsu-" no. 1388, juga dalam Al-Misykah no. 1308, Al-Dhaifah no. 2132)
Hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ
"Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya'ban, lalu Dia akan mengampuni umatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan Bani Kalb." (HR. Ibn Majah no. 1389 dan al-Tirmidzi no. 670. Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam Dhaif Sunan Ibni Majah no. 295 dan Dhaif al-Jami' al-Shaghir no. 1761)
Kesimpulannya, bahwa perkara-perkara ini tidak diterangkan oleh hadits ataupun atsar kecuali dari jalur yang lemah dan maudhu'.
Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah berkata, "Ahli Ta'dil dan Tajrih berkata, "Tidak ada hadits shahih yang menerangkan tentang Nishfu Sya'ban. Wahai Hamba-hamba Allah berhati-hatilah dari para pemalsu yang akan meriwayatkan sebuah hadits untuk kalian yang dipasarkan untuk kebaikan. Mengamalkan kebaikan seharusnya dengan sesuatu yang disyariatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Apabila telah nyata bahwa dia berdusta maka telah keluar dari yang disyariatkan, maka penggunanya telah menjadi pembantu syetan karena menggunakan hadits atas nama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya." (Al-Ba'its 'ala Inkar al Bida' wa Al-Hawadits, Ibu Syamah al-Maqdisi, hal. 127)
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya tentang malam nishfu Sya'ban? Apakah ada shalat khusus di dalamnya?
Beliau menjawab, "Malam Nishfu Sya'ban, tidak ada hadits shahih yang menerangkannya. Semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan di dalamnya adalah maudhu' (palsu) dan lemah yang tidak memiliki sumber. Malam itu tidak memiliki keistimewaan (kekhususan), baik dengan membaca sesuatu, tidak pula shalat khusus dan berjama'ah. . Dan apa yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa malam tersebut memiliki keistimewaan adalah pendapat yang lemah, karenanya tidak boleh diistimewakan dengan sesuatu. Ini adalah yang benar, semoga Allah melimpahkan taufiq-Nya kepada kita." Selesai fatwa, Wallahu Ta'ala A'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)