Laman

Senin, 16 Juli 2012

Sebuah Parade Ukhuwah


Sebuah Parade Ukhuwah
Sebuah kisah nyata seperti yang di utarakan oleh Drs. Umar Ali Yahya dan Syarifuddin. Ukhuwah intinya 'MEMBERI'. Memberi tanpa mengharapkan kata terima kasih dan tidak mengharap balasan, artinya mengharap balasan hanya dari Allah SWT.
Ukhuwah dan keimanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, maka dari itu jika salah satu tidak ada maka yang lainnya pun sirna. Tingkat ukhuwah terendah ialah bersih hati dan berbaik sangka pada saudaranya sedangkan tingkat ukhuwah tertinggi ialah mendahulukan saudaranya daripada dirinya [Drs. Umar Ali Yahya].
Alkisah, disebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Bangka Jakarta Selatan, berkumpul sekelompok anak-anak sekolah yang sedang istirahat mengerumuni abang penjual rujak, rupanya siang itu anak-anak sedang membeli rujak. Diantara sekumpulan anak-anak tersebut terdapatlah seorang anak bernama Ubaidurrahman (Ubay) yang saat itu ingin sekali membeli rujak namun uangnya ketinggalan di kelas. Keinginan Ubay itu ditangkap oleh temannya Hamad tanpa terlewat sedikitpun. Saat itu Hamad pun sebetulnya ingin membeli rujak juga, namun uangnya tinggal seribu rupiah saja, dan itupun untuk ongkos pulang.
'Pake uangku saja dulu Ubay,' seru Hamad pada Ubay yang terlihat sangat ingin sekali membeli rujak. 'Terima kasih, nanti aku ganti uangnya di kelas ya,' jawab Ubay riang.
Begitulah, Hamad meminjamkan uangnya yang hanya tinggal seribu itu pada Ubay untuk membeli rujak dengan harapan nanti akan dibayar di kelas. Ketika sampai di kelas ternyata Ubay tidak membayar hutangnya karena ternyata uangnya sudah terpakai untuk yang lain.
'Masya Allah, Hamad aku lupa, uangnya tadi sudah dipakai, besok saja ya...' Hamad menatap Ubay sejenak dan kemudian mengangguk dengan senyum khasnya. Dalam keadaan tidak ada uang sepersen pun, bahkan untuk ongkos pulang sekalipun, Hamad masih tersenyum dan menjalani sisa harinya dengan kegembiraan.
Bel sekolah telah berbunyi, menandakan waktunya untuk pulang. Tidak terkecuali dengan Hamad, ia pun pulang meskipun tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini dia terlihat berjalan kaki, ya.. berjalan kaki dari sekolahnya di Bangka-JakSel sampai rumahnya di Jatibening-Bekasi, yang biasa memerlukan waktu 1 jam jika ditempuh dengan kendaraan.***
'Hamad kok belum pulang ya Bu? Aku mulai khawatir, coba telepon teman-temannya barangkali memang sedang ada acara di sekolahnya,' pinta Ust. Zufar pada istrinya.Ust. Zufar merupakan ayah dari Hamad. Beliau ialah sosok yang ramah, nama lengkapnya ialah Ust. Zufar Bawazier, Lc, dosen LIPIA dan juga pengurus sebuah Partai Islam di Indonesia.
Saya sempat mengenalnya ketika beliau mengisi sebuah seminar di Bandung dimana saya terlibat sebagai panitia. Saat itu, beliau kami sediakan tiket pulang dengan Kereta Api untuk jadwal kepergian jam 13.00. Betapa kagetnya saya ketika teman saya memberitahukan bahwa Ust. Zufar sedang berdiri menunggu angkutan umum yang saya yakin beliau tidak hafal rutenya, untuk menuju stasiun. Lebih parah lagi waktu telah menunjukan pukul 12.50, yang artinya hanya 10 menit lagi kereta akan segera pergi.
Saya segera mengambil motor untuk mengantarnya menuju stasiun, saya tidak habis fikir mengapa Ust. Zufar tidak memberi tahu panitia kalau keadaannya seperti ini, atau memang panitianya yang tidak memperhatikan, pikirku. Aku susuri jalanan kota Bandung dengan kecepatan tinggi, bahkan sempat melanggar beberapa rambu lalu lintas, aku tak peduli, saat itu fikiranku hanya mengantar Ust. Zufar agar tidak ketinggalan kereta menuju Jakarta.
Dan memang akhirnya Ust. Zufar bisa mendapatkan keretanya, walaupun harus dengan berlari setelah sebelumnya masih sempat menyalamiku sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Itulah kenangan terakhir dan satu-satunya pertemuanku dengan Ust. Zufar. 'Kriiing...' telepon di rumah Pak Umar berdering. Telepon itu ternyata dari Ust. Zufar yang kemudian memberitahukan kepada Pak Umar selaku kepala sekolah madrasah, bahwa anaknya saat itu pulang malam sekali. Lalu Ust. Zufar pun menjelaskan penyebab anaknya pulang terlambat.
Esok harinya, Pak Umar memanggil Hamad dan Ubay ke Kantor. Tidak ditemukan wajah kesal atau kecut dari Hamad, suatu pancaran ketenangan jiwa dari seorang anak yang masih bersih hatinya. Lalu Pak Umar berkata pada Ubay, 'Lihatlah, sepatu temanmu rusak karena kamu menyia-nyiakan kebaikannya...' Pak Umar terkenal akan kebijaksanaannya, beliau digelari 'Pembina Sejati' oleh teman saya di Bandung yang pernah merasakan sentuhannya pula. Saya beruntung pernah menjadi binaanya selama setahun. Waktu yang cukup singkat untuk sebuah pembinaan yang bertajuk Ta'lim Rutin Kader Activis. Namun waktu yang singkat itu telah cukup baginya untuk meniup kuncup dalam diri ini sehingga mekar menjadi bunga.
Sepatu tua Hamad terlihat rusak, yang memang sebelumnya sudah lusuh. Ubay menangkap semua itu tanpa terlewat sedikitpun. 'Maafkan aku ya Hamad, ini pakai saja sepatuku, aku punya dua sepatu kok di rumah.' Begitulah kisah mereka berdua, parade ukhuwah mereka begitu mempesona setiap orang yang melihatnya.

Kamis, 12 Juli 2012

PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

1.      Motivator : membangkitkan motivasi belajar siswa
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik .
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri .
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu sebagai berikut.
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
2.      Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi.
3.      Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
4.      Siswa yang berprestasi diberikan penghargaan atau pujian.
5.      Pemberian hukuman kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
6.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
7.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
8.      Menggunakan metode yang bervariasi, dan
9.      Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2.      Narasumber : guru sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga ia benar-benar berperan sebagai sumber belajar bagipeserta didiknya.

3.   Fasilitator : guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran
sebelum proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya :
bagaimana caranya agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran?
Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha
sungguh-sungguh ingin agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan
baik.
4. Evaluator : guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
Terdapat dua fungsi dalam memerankan perannya.
Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam
menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru
dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.
suatu kekuatan sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh.

5.   Pelaksanaan Remidial : program perbaikan bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar
Program Remedial (perbaikan) dimaksudkan adalah untuk memberikan bantuan pertolongan khusus kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan penguasaan pada Ulangan Harian (Ulhar) atau Ulangan Blok yang ditempuh pertama kali.  Maksudnya siswa tersebut belum mencapai angka KKM yang ditetapkan oleh sekolah seperti yang disebutkan di atas. Siswa yang belum tuntas harus mengikuti Program Remidial, sedang yang dinyatakan tuntas dapat diberikan Program Pengayaan atau Program Percepatan.

Minggu, 08 Juli 2012

NAWANG WULAN (Subagio Sastrowardoyo); Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik


NAWANG WULAN
Karya: Subagio Sastrowardoyo
Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Puisi
Pengampu: Adyana Sunanda

Disusun oleh:
Nama        : Luqmanul Hakim
NIM          : A 310 100 072

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan mentelaah sebuah karya sastra merupakan suatu cara untuk mengetahui seluk-beluk dalam suatu karya tersebut. Dalam teori pengkajian karya sastra puisi, terdapat beberapa tinjauan ataupun pendekatan yang bisa dilakukan. Diantara tinjauan-tinjauan tersebut adalah dengan tinjauan struktural dan tinjauan semiotik.
Tinjauan struktural atau pendekatan analitis yaitu suatu pendekatan yang mencoba memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan itu, dan memahami unsur-unsur intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur tersebut. Sehingga mampu membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk dan maknanya.
Sedangkan semiotik merupakan salah satu pendekatan yang sedang diminati oleh para ahli sastra dewasa ini, tidak terkecuali para peminat sastra di Indonesia. Akhir-akhir ini semakin banyak diterbitkan tulisan yang menggunakan model dan konsep dari semiotika.
Semiotik menurut Sudjiman (1996) adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Sudjiman, 1996: 5).
Semiotika adalah ilmu tanda; istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani semieon yang berarti “tanda”. Tanda terdapat dimana-mana: kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya.



PEMBAHASAN
A.    Nawang Wulan dalam Tinjauan Struktural.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.


1.      Struktur Lahir:
a.      Diksi / Diction
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
·         Sambut aku dengan bunga
·         Itu darah dari duka dan cinta
·         Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
·         Itu darah yang mengalir dari duka dan cinta

b.      Imaji / Imagery
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia (Imaji dengaran)
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa (Imaji rabaan)
·         Bunga buat kekasih yang manis merindu (Imaji cecapan)
·         Lalu panggil aku turun di teratakmu (Imaji dengaran)

c.       Kata Konkret
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
·         Sambut aku dengan bunga
·         Lalu panggil aku turun di teratakmu

d.      Bahasa Figuratif / Majas / Gaya Bahasa
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia (Sinekdok/Totemproparte)
·         Itu darah dari duka dan cinta (majas Personofikasi)
·         Bunga buat maut yang diam menunggu (majas Personofokasi)
·         Ladang minta digenang (majas Personifikasi)

e.       Irama & Rima / Rythme & Rime
·         A-A-A-A
·         A-A-B-B
·         A-A-B-A



2.      Struktur Bathin:
a.       Tema
Suatu penipuan dari laki-laki agar mendapatkan wanita yang disukainya, walaupun pada akhirnya penipuan itu terbongkar.

b.      Rasa
Rasa yang ingin disampaikan penyair dalam puisi ini adalah perasaan yang senang dan penuh kasih sayang, walaupun pada awalnya dan akhirnya diliputi oleh penyesalan.

c.       Nada
Penyair memiliki sikap yang lembut dalam puisi ini. Menyatakan ungkapan untuk dikasihi dan disayangi, juga untuk menyayangi.

d.      Amanat
Untuk menadapatkan sesuatu yang baik, hendaknya kita juga menggunakan cara-cara yang baik juga. Janganlah menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa mengindahkan yang lain.

  
B.     Nawang Wulan dalam Tinjauan Semiotika.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.

·         Analisis
Tinjauan ini diawali dengan memperhatikan judul sajak tersebut. Karena judul ikut berperan dalam menjelaskan isi sajak. Judul adalah indeks bagi teks karena merupakan nama teks yang bersangkutan. Setelah membaca judul “Nawang Wulan”, segera saja timbul pertanyaan, apa itu Nawang Wulan? Atau mungkin siapa itu Nawang Wulan? Kata “Nawang Wulan” dapat ditinjau dari makna denotatifnya, yaitu “nama seorang bidadari dalam cerita Jaka Tarub”. Kisah dari Nawang Wulan tersebut ternyata dapat ditemukan dalam sajak, jika kita memperhatikan larik-larik berikut.
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Kata “jangan” sangat identik dengan maksud larangan ataupun pencegahan dari suatu tindakan. Akan tetapi jata “jangan” dalam sajak ini lebih bermakna pada permohonan untuk melakukan suatu hal pada sesuatu dengan alasan dan tujuan tertentu. Dan makna disini adalah suatu permohonan untuk tidak bercakap dan berbicara menggunakan bahasa dunia, karena mungkin bahasa dunia itu dinilai kasar dan cenderung tidak baik jika dibandingkan dengan bahasa di surga yang semua serba sempurna. Disamping itu juga terdapat permohonan untuk tidak menyentuh yang disini bermakna menjamah ataupun menggauli. Karena mungkin tubuh orang di dunia ini penuh dengan dosa. Berbeda dengan para penghuni surga yang masih terjaga kesuciannya.
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Pada potongan sajak ini kata “sambut aku dengan bunga” bukanlah berarti minta untuk disambut dengan menggunakan bunga, akan tetapi lebih mengarah pada suatu permohonan untuk menerima kedatangannya dengan kebaikan dan segala kemurahan hati, diperlakukan dengan baik, dan tidak disakiti ataupun yang lainnya. Karena itu merupakan suatu yang sangat berarti dalam kehudupan dan lebih dari segalanya. Apalah arti kesenangan dan kesuksesan tanpa cinta dan kasih sayang, tentunya hidup akan jadi serasa tak ada artinya.
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Kata “bunga” pada bari pertama dan kedua dalam potongan sajak di atas bisa diartikan sebagai suatu wujud kasih sayang dan cinta yang mendalam. Yaitu kasih sayang dan cinta untuk jiwa baru yang terlahir ke dunia yang fana dari alam lain yaitu alam rahim. Karena tentunya jiwa yang terlahir ke dunia pastilah membawa suatu amanah yang berat. Hal tersebut juga bisa diperuntukkan pada baris yang kedua yaitu “Bunga buat kekasih yang manis merindu”, yaitu suatu penghargaan kepada sang kekasih karena kesabaran dan kesetiaannya pada pujaan sang hati dengan segala kerinduan yang disimpannya. Yaitu segala kasih sayang dan cinta yang diperuntukkan pada sang kekasih.
Sedangkan untuk kata “Bunga” pada baris ketiga yang berbunyi “Bunga buat maut yang diam menunggu” pada potongan sajak di atas tidaklah bisa disamakan dengan makna kata “bunga” seperti pada baris yang sebelumnya. Makna kata “bunga” di sini lebih mengarah pada penghargaan dan suatu penghormatan bahkan suatu wujud penantian untuk maut atau kematian yang kelak pasti akan datang.
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Pada baris pertama potongan sajak ini bermakna pada himbauan untuk memperhatikan sang buah hati ketika dia menangis kelaparan, kapanpun dan bagaimanapun itu waktu dan keadaannya. Hal ini dikarenakan anak adalah suatu anugerah sekaligus sebagai amanah dari yang Maha Kuasa. Sedangkan pada baris kedua potongan sajak tersebut “Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru” adalah suatu pernyataan yang mengingatkan agar jangan melupakan ladang sebagai sumber penghidupan. Karena ketika ladang tidak menghasilkan padi, maka padi yang di lumbung akan berangsur-angsur habis dan hal ini lah yang menjadikan Nawang Wulan menemukan selendangnya yang disembunyikan oleh Jaka Tarub dan menjadikannya pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk kembali ke khayangan. Walaupun pada akhirnya bangsa khayangan tidak bisa menerimanya kembali karena dia telah ternoda oleh manusia di bumi.
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Ketika sang buah hati menangis, agar berhenti dari tangisannya salah satu cara adalah dengan di adalah gendong dan titimang-timang. Hal ini adalah mengkisahkan ketika Nawang Wulan sudah pergi meninggalkan suami dan bayinya. Sebelum kepergiannya Nawang Wilan berpesan kepada suaminya agar ketika nanti bayinya menangis ataupun minta susu, hendaknya Jaka Tarub memanggil Nawang Wulan untuk menyusui bayinya. Hal ini ada sangkut pautnya dengan baris kedua potongan syair di atas yang berbunyi “Lalu panggil aku turun di teratakmu”. Itu ngartikan tanda bahwa Nawang Wulan meminta suaminya Jaka Tarub untuk memanggilnya turun ketika bayinya menangis minta susu.
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.
Kata “Dengan bunga” ini bukanlah menggunakan bunga seperti yang sudah dibahas di atas. Tetapi merupakan satu isyarat bahwa dalam memperlakukannya adalah dengan perlakuan yang mulia, penuh dengan kasih sayang dan cinta. Sedangkan dalam kalimat “Itu darah yang mengalir dari duka dan cinta” ini bisa diartikan sebagai hal yang mutlak adanya. “Dari duka dan cinta” berarti perasaan cinta dan kasih sayang ini akan tetap selalu ada dalam setiap suka dan duka. Ketika senang dan bahagia ini akan tetap ada, demikian juga ketika dalam keaadaan duka dan susah hal ini juga tidak akan hilang.
  


PENUTUP
Daftar Pustaka
Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sudjiman, Panuti, Aart Van Zoest. 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rabu, 04 Juli 2012

Hukum Merayakan Malam Nishfu Sya'ban dan Puasa Pada Siangnya


Oleh: Badrul Tamam


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (QS. Al-Syuura: 21)
Dalam Shahihain, dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, dari NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam: "Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak."
Dan dalam Shahih Muslim, dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam khutbah Jum'at: "Amma Ba'du: sesugguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, dan seburuk-buruk urusan (Islam) adalah yang diada-adakan. Maka setiap perkara bid'ah adalah sesat."
Banyak sekali ayat dan hadits yang semakna dengan ini. Semuanya menunjukkan dengan jelas, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan lengkap ajaran Islam untuk umat ini dan telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk mereka. Sehingga tidaklah diwafatkan Nabi-Nya 'Alaihis Shalaatu Wassalam kecuali setelah benar-benar menyampaikan semua risalah dan menerangkan syariat Allah –baik yang berbentuk perkataan dan perbuatan- kepada umat ini.
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan, setiap perkara yang dibuat-buat manusia sesudah beliau lalu dinisbatkan kepada Islam –baik yang berbentuk perkataan dan perbuatan- maka itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah tertolak, yakni dikembalikan kepada pembuatnya, walaupun niatnya baik.
Para sahabat Nabi ridhwanullah 'Alaihim benar-benar memahami persoalan ini. Begitu juga ulama-ulama sesudah mereka. Semuanya mengingkari perkara bid'ah dan memperingatkan umat dari bahayanya. Sebagian ulama sangat konsen terhadap sunnah dan mengingkari perkara bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhah, Imam al-Thurthusyi, Abu Syamah, dan ulama lainnya.
. . . setiap perkara yang dibuat-buat manusia sesudah beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu dinisbatkan kepada Islam maka itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah tertolak, yakni dikembalikan kepada pembuatnya, walaupun niatnya baik. . .
Di antara perkara bid'ah yang dibuat orang adalah perayaan malam Nishfu Sya'ban dengan mendirikan shalat khusus –biasa disebut shalat Bara'ah- dan mengistimewakan siangnya dengan puasa. Padahal, tidak ada dalil shahih yang bisa dijadikan sandaran amal ini. Terdapat beberapa dalil yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya'ban, tapi statusnya didhaifkan oleh mayoritas ulama. Di antaranya;  
Dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu 'Anhu secara marfu', berkata,
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا
"Apabila tiba malam nishfu Sya'ban maka berdirilah shalat pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya." (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1388, dan ini adalah hadits Maudlu'. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Dhaif Sunan Ibni Majah, "Lemah sekali atau maudlu –palsu-" no. 1388, juga dalam Al-Misykah no. 1308, Al-Dhaifah no. 2132)
Hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ
"Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya'ban, lalu Dia akan mengampuni umatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan Bani Kalb." (HR. Ibn Majah no. 1389 dan al-Tirmidzi no. 670. Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam Dhaif Sunan Ibni Majah no. 295 dan Dhaif al-Jami' al-Shaghir no. 1761)
Kesimpulannya, bahwa perkara-perkara ini tidak diterangkan oleh hadits ataupun atsar kecuali dari jalur yang lemah dan maudhu'.
Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah berkata, "Ahli Ta'dil dan Tajrih berkata, "Tidak ada hadits shahih yang menerangkan tentang Nishfu Sya'ban. Wahai Hamba-hamba Allah berhati-hatilah dari para pemalsu yang akan meriwayatkan sebuah hadits untuk kalian yang dipasarkan untuk kebaikan. Mengamalkan kebaikan seharusnya dengan sesuatu yang disyariatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Apabila telah nyata bahwa dia berdusta maka telah keluar dari yang disyariatkan, maka penggunanya telah menjadi pembantu syetan karena menggunakan hadits atas nama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya." (Al-Ba'its 'ala Inkar al Bida' wa Al-Hawadits, Ibu Syamah al-Maqdisi, hal. 127)

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya tentang malam nishfu Sya'ban? Apakah ada shalat khusus di dalamnya?
Beliau menjawab, "Malam Nishfu Sya'ban, tidak ada hadits shahih yang menerangkannya. Semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan di dalamnya adalah maudhu' (palsu) dan lemah yang tidak memiliki sumber. Malam itu tidak memiliki keistimewaan (kekhususan), baik dengan membaca sesuatu, tidak pula shalat khusus dan berjama'ah. . Dan apa yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa malam tersebut memiliki keistimewaan adalah pendapat yang lemah, karenanya tidak boleh diistimewakan dengan sesuatu. Ini adalah yang benar, semoga Allah melimpahkan taufiq-Nya kepada kita." Selesai fatwa, Wallahu Ta'ala A'lam.