Laman

Selasa, 22 Januari 2013

NILAI BUDAYA DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI: TINJAUAN SEMIOTIK


  1. Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil dari pemikiran, khayalan, imajinasi dari seseorang yang dituangkan ke dalam suatu wadah dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Jabrohim (2001;72), menyatakan bahwa sastra (karya sastra) merupakan karya seni yang mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Dengan memanfaatkan suatu bahasa biasanya pengarang menuangkan segala luapan perasaan yang menceritakan tentang kehidupan yang telah pengarang lihat, alami, dan rasakan ke dalam suatu karya sastra. Tidak hanya kisah-kisah fakta yang pengarang tulis, namun karya sastra juga merupakan hasil dari imajinasi seseorang sehingga sifat dari karya sastra itu fiksi.
Dalam sebuah karya fiksi, sastra memberikan berbagai warna yang dituangkan dalam permasalahan-permasalahan kemanusiaan dalam kehidupan sehingga kesan yang ditonjolkan itu bisa dirasakan oleh para pembaca. Penelitian terhadap karya sastra sangatlah penting dilakukan untuk mengetahui relevansi karya sastra dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat, serta untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang pada dasarnya mencerminkan keadaan sosial dan budaya yang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat.
Novel merupakan salah satu dari karya sastra yang sering digunmakan sebagai sarana pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari, karena di dalam novel terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel bermacam-macam, mulai dari nilai agama, nilai sosial, nilai pendidikan, nilai moral, nilai budaya, dan lain-lain. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut, pembaca dapat belajar memahami tentang arti kehidupan dalam masyarakat.
Nilai budaya merupakan salah satu nilai yang sering dijumpai dalam suatu karya sastra khususnya novel. Ratna (2009:329), menyatakan bahwa karya sastra mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual. Dari sebuah novel kita dapat mengetahui nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat tertentu, baik budaya yang bersifat positif maupun budaya yang bersifat negatif. Dari sinilah penulis memanfaatkan novel sebagai sarana untuk pelestarian budaya serta menjaga budaya tersebut.
Dalam menulis sebuah karya sastra, khususnya novel, pengarang novel sering menuangkan berbagai macam budaya yang ada di sekitarnya ke dalam tulisannya.budaya-budaya tersebut dapat berupa bahasa, adat-istiadat, kebiasaan dan masih banyal lagi budaya yang lain untuk menjelaskan serta menggambarkan macam-macam budaya kepada pembaca. 
  1. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan dan topik pembahasan pada penelitian ini tidak keluar dari haluan dan permasalahan yang sudah dirumuskan diperlukan adanya pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Struktur novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
2.      Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan menggunakan tinjauan semiotik
  1. Rumusan Masalah
Agar permasalahan yang akan dibahas menjadi terarah dan menuju tujuan yang diinginkan diperlukan adanya perumusan masalah. Adapun permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana struktur novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ?
2.      Apa sajakah nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan menggunakan tinjauan semiotik ?
  1. Tujuan Penelitian
Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, dirumuskan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.
1.      Memaparkan struktur novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
2.      Memaparkan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan menggunakan tinjauan semiotik.

  1. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti ingin memberikan manfaat secara teoritis dan secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis berkaitan dengan substansi teks yang melahirkan teori baru mengenai budaya pada sebuah karya sastra.
a.       Memberikan sumbangan terhadap ilmu bahasa, khususnya dalam bidang kesusastraan yang mengarah pada pembinaan aspek nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra.
b.      Sebagai bahan pembanding untuk mengadakan penelitian terhadap suatu karya sastra.
c.       Bermanfaat bagi kepustakaan studi sastra Indonesia agar dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis berkaitan dengan apa yang dilakukan peneliti agar nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya sastra mudah dipahami oleh pembaca.
a.       Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan latihan dalam menganalisis sebuah karya sastra untuk menuju hasil yang lebih baik.
b.      Bagi pembaca, hasil penelitian ini sebagai informasi  tentrang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari sehingga pembaca dapat menerapkan nilai-nilai tersebut setiap hariya.
c.       Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan peneliti ini dapat menggunakannya sebagai tambahan informasi, memberikan kerangka penelitian sejenis selanjutnya.
d.      Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam mengapresiasikan karya sastra.
  1. Sistematika Laporan Penelitian
Sistematika penulisan laporan penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I
Pendahulian, memuat antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian,objek penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik validitas data, teknik analisis data, kerangka pemikiran, dan sistematika penulisan laporan.
BAB II
Berisikan tentang biografi pengarang yang terdiri dari riwayat hidup pengarang, latar belakang pendidikan pengarang, hasil karya pengarang, dan ciri khas kesusastraan pengarang.
BAB III
Merupakan bab inti yang pertama dari penelitian yang akan membahas aspek struktural yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
BAB IV
Meripakan bab inti selanjutnya dari penelitian ini yang akan membahas analisis nilai budaya dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
BAB V
Merupakan bab terakhir dari penelitian ini yang akan memuat simpulan, saran, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.
  1. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian tentang budaya telah dilakukan oleh Farida Nurul Hidayah (2006) dengan judul “Aspek Sosial Budaya Novel Namaku Hiroko karya NH. Dini: Pendekatan Semiotik”. Berdasarkan analisis aspek sosial budaya pada novel Namaku Hiroko yaitu meliputi aspek agama Sinto, aspek adat sopan santun pergaulan masyarakat Jepang yaitu adat memberi hadiah setiap berkunjung  dan adat membungkukkan badan untuk menghormati memberi salam, aspek pakaian adat Jepang yaitu Kimono dan Yukata, aspek mata pencaharian sebagai pembantu rumah tangga, pegawai toko, peragawati, dan penari stripis, aspek zina dan aborsi, dan aspek cinta kasih.
Penelitian tentang nilai budaya juga telah dilakukan oleh Andri Aliraksa (2008) dalam skripsinya yang berjudul “Aspek Sosial Budaya Jawa Novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo: Tinjauan Semiotik”. Hasil penelitian yang diperoleh dari analisis semiotik pada novel Mantra Pejinak Ular adalah tradisi-tradisi dalam budaya Jawa, transformasi budaya menuju budaya islami, demitologisasi pemikiran bangsa, politisasi kesenian, demokrasi kontra gaya kekuasaan Jawa, dan perilaku politik rezim Orde Baru.
Thomas Prasetyo (2010) juga telah melakukan penelitian mengenai nilai budaya dalam skripsinya yang berjudul “Aspek Budaya Novel Kronik Betawi karya Ratih Kumala: Tinjauan Semiotik dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA”. Hasil penelitian yang ditemukan oleh Thomas Prasetyo dalam novel Kronik Betawi karya Ratih Kumala, antara lain: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, dan sistem teknologi.
  1. Kajian Teoretis/Landasan Teori
1.         Nilai
Nilai memiliki berbagai macam arti dan merupakan cara yang digunakan dalam mengukur sesuatu. Dalam KBBI nilai memiliki arti (1) harga(taksiran harga), (2) harga uang (dibandingkan dengan harga lainnya), (3) angka kepandaian; biji; ponten, (4) banyak sedikitnya isi; kadar; mutu, (5) sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, (6) sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.
Pepper (dalam Soelaeman, 1988:18) menyatakan bahwa nilai dapat mengacu kepada berbagai hal seperti minat, kesukaan pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, atraksi (daya tarik) dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dari orienmtasi seleksinya. Rumusan nilai dapat diperluas dan dipersempit. Rumusan nilai yang luas dapat meliputi seluruh perkembangan dan kemungkinan unsur-unsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu kajian ilmu sosial. 
2.         Budaya
Budaya lahir dari kebiasaan yang telah disepakati dalam siatu golongan atau kelompok dan bersifat abstrak. Koentjaraningrat (1985:9) menyatakan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berartyi “budi” atau “akal”.
Koentjaraningrat (1985:1-2) menyatakan bahwa kebudayaan sebagai keseluruhan hidup manusia yang kompleks, meliputi hukum, seni, moral, adat-istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi. Menekankan kebudayaan yang bersifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku. Pendekatan budaya dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan sekitarnya. Kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya. Kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Definisi kebudayaan yang tidak lengkap dan kurang bersistem.

3.         Nilai Budaya
Sebagai insan yang tidak bisa hidup sendiri, manusia selalu dihadapkan dengan nilai-nilai yang tyertanam  dalam masyarakat. Nilai-nilai itu bersifat abstrak namun mengikat.Koentjaraningrat menjelaskan bahwa nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kekuatan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia yang lain yang tingkatnya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum, dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai budaya itu.
Kluckhohn (dalam Saputra, 2011),   mengemukakan   bahwa   nilai   budaya merupakan  sebuah  konsep  beruanglingkup  luas  yang  hidup  dalam  alam  fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai-nilai budaya.
Menurut Koentjaraningrat (dalam Saputra. 2011) mengemukakan bahwa nilai budaya terdiri dari konsepsi – konsepsi  yang  hidup  dalam  alam  fikiran  sebahagian  besar  warga  masyarakat mengenai hal – hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara – cara, alat – alat, dan tujuan – tujuan pembuatan yang tersedia. 
4.         Novel
Novel merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Sebutan novel berasal dari bahasa Italia, yaitu novella, dalam bahasa Jerman novelle. Secara harfiah novella berarti “sebuah barang baru yang kecil” dan kemudian diartikan sebagai “cerita pendek dalam bentuk prosa”. Dewasa ini, istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novellete), yang berarti sebuah karya sastra prosa fiksi yang penjangnya cukupan, tidak terlalu panjanhg, tetapi juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 1995:9).
Tarigan (1993:164) menyatakan bahwa novel adalah cerita fiktif yang melukiskan para tokoh, gerak serta kehidupan nyata yang representatif dalam suatu keadaan yang agak kacau dengan panjang tertentu. Dunia yang ditawarkan oleh novel merupakan dunia yang imajiner, yang dibangun melalui unsur intrinsik seperti pariwisata, plot, tokoh (penokohan), latar, serta sudut pandang yang kesemuanya bersifat imajiner (Nurgiyantoro, 1996:5).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah karya sastra (fiksi) yang bersisi tentang kisah hidup seseorang yang dituangkan ke dalam tulisan. 
5.         Teori Semioik
Teori semiotik merupakan ilmu tentang tanda. Fungsi dari semiotik ini salah satunya untuk mengetahui arti atau makna dalam sebuah karya dengan menganalisis tanda-tanda yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Secara dafinitif, menurut Paul Cobley dan Litza Jans (dalam Suminto, 2000:1) menjelaskan bahwa semiotika berasal dari kata seme, bahasa Yunani yang berarti “penafsir tanda”. Sementara literatur lain menyebutkan bahwa semiotik berasal dari kata semion yang berarti “tanda”. Dalam pengertian yang luas semiotik berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana kerjanya, dan apamanfaatnya terhadap kehidupan manusia (Ratna: 2004). Rien T. Segers (dalam Sumito, 2000:1) menjelaskan bahwa semiotik adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs ’tanda-tanda’ dan berdasarkan pada sign system (code).
Peirce (dalam Junaedi. 2009) mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant. Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
Penanda dan petanda memperoleh arti dalam pertentangannya dengan penanda dan petanda yang lain. Hubungan antara penanda dengan petanda bersifat arbitrer (Ratna, 2009:99). Menurut Saussure (dalam Ratna, 2009:277) hubungan antara penanda dan petanda bersifat pasti, monolitis. Ratna (2009:101) menyatakan bahwa dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda, tanda dibedakan sebagai berikut.
a.       Representamen, ground, tanda itu sendiri, sebagai perwujudan gejala umum.
b.      Object (designatum, denotatum, referent), yaitu apa yang diacu.
c.       Interpretant, tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima.
  1. Kerangka Pemikiran
Kerangka berfikir merupakan gambaran bagaimana penelitian ini akan dilakukan. Tujuan dari adanya kerangka berfikir adalah agar suatu penelitian yang dilakukan seorang peneliti arah berfikirnya menjadi jelas dan rinci.
Langkah awal dalam penelitian ini adalah memahami dan mempelajari isi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Selanjutnya novel Ronggeng Dukuh Paruk didekati dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan strukturalisme dan pendekatan semiotik. Pendekatan strukturalisme menghasilkan insur intrinsik yang berupa tema, alur, latar, dan penokohan. Pendekatan semiotik menghasilkan nilai budaya. Hasil analisis struktur dan analisis semiotik merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Setelah mendapatkan hasil analisis, maka penelitian ini disimpulkan.

  1. Metode Penelitian
Metode penelitian ialah cara-cara yang akan digunakan oleh seorang peneliti dalam melakukan suatu penelitian sesuai dengan objek dan jenis penelitian. Moleong (2004:17) menjelaskan bahwa metode penelitian adalah jalan atau cara yang digunakan dalam kegiatan penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur sesuai dengan objek penelitian serta jenis penelitian. Dengan mengidentifikasi metode penelitian yang sesuai terlebih dahulu, maka seorang peneliti akan menemukan jalan mudah dalam melakukan penelitian karena dalam suatu metode penelitian akan terpapar secara jelas tentang cara yang tepat dalam melakukan penelitian.
Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Moleong (2004:4) menyatakan bahwa metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menggunakan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; dan ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan pola-pola nilai yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.
1.      Pendekatan dan Strategi Penelitian
a.       Pendekatan
Penelitian deskriptif artinya untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian (Suryabrata, dalam Soejono 1999:21-22). Penelitian ini mendeskripsikan kata-kata, frasa, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Jenis penelitian yang dilakukan peneliti dengan judul “Nilai Budaya dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari: Tinjauan Semiotik” adalah penelitian deskriptif.
b.      Strategi Penelitian
Strategi penelitian merupakan rencana atau taktik yang dipilih atau digunakan oleh seorang peneliti untuk melakukan suatu penelitian. Menurut Sutopo (2006:180), strategi penelitian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk studi kasus yang tidak terpancang/penjelajahan (Grounded Research) dan studi kasus terpancang (Embedded Case Study). Penelitian ini dapat digolongkan dalam Embedded Case Study karena objek penelitian ini sudah ditentukan dan ditegaskan sebelum peneliti melakukan penelitian, sasaran dalam penelitian ini yaitu nilai budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. 
2.      Objek Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus menentukan objek yang akan dikaji terlebih dahulu. Dengan kata lain, objek penelitian dapat diartikan sebagai sasaran penelitian yang tidak lepas dari masalah penelitian. Objek penelitian yang ada pada penelitian ini adalah nilai budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
3.      Data dan Sumber Data
a.       Data
Data pada dasarnya merupakan bahan mentah yang dikumpulkan oleh penelitidari dunia yang dipelajarinya (Sutopo, 2002:73). Adapun data dalam penelitian ini berwujud kata, ungkapan, dan kalimat yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tahun 2011 ( 406 halaman).
b.      Sumber Data
Sumber data adalah asal dari mana data diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber asli, sumber tangan pertama penyelidik.  Dari sumber data ini akan dihasilkan data primer yaitu data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Sumber data primer penelitian ini adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data, teknik simak dan catat berarti penulis sebagai instrumen kunci untuk melakukan penyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data primer. Hasil penyimakan dicatat sebagai data (Subroto, 1992:41-42). Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut.
a.       Teknik pustaka, yaitu penulis membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk secara keseluruhan.
b.      Teknik simak, yaitu penulis menyimak novel Ronggeng Dukuh Paruk secara cermat dan teliti sehingga memperoleh data yang diperlukan.
c.       Teknik catat, yaitu data yang diperoleh dari penyimakan kemudian dicatat, sesuai dengan data yang diperlukan dalam penelitian.
5.      Teknik Validasi (Keabsahan) Data
Moleong (2004:151) menyatakan bahwa teknik trianggulasi data adalah keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Dengan menggunakan data perbandingan antara data dari sumber data yang satu dengan yang lain sehingga keabsahan dan kebenaran data akan diuji oleh sumber data yang berbeda. Teknik validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik trianmggulasi data.
6.      Teknik Analisis Data
Sesuai dengan jenis penelitian, analisis data dilakukan dengan metode kualitatif untuk menganalisis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam penerapannya digunakan model pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, yaitu dengan cara menginterpretasikan secara struktural. Artinya, pada tahap ini pembaca dapat menemukan arti (meaning) secara linguistik.
Adapun model pembacaan hermeneutik untuk mencari makna (meaning of meaning atau significance). Model pembacaan ini merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan membaca secara bolak-balik dari awal sampai akhir. Dengan pembacaan bolak-balik itu, pembaca dapat mengingat peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian di dalam teks sastra yang dibaca. Selanjutnya, pembaca menghubungkan kejadian-kejadian tersebut antara yang satu dengan yang lainnya. Sampai ia dapat menemukan makna karya sastra pada sistem sastra yang tertinggi, yaitu makna keseluruhan teks sebagai sistem tanda (Riffaterre dalam Sangidu, 2004:19).
Langkah awal dalam analisis novel Ronggeng Dukuh Paruk dalam penelitian ini dengan pembacaan awal novel Ronggeng Dukuh Paruk untuk menganalisis unsur-unsurnya. Unsur-unsur yang dianalisis di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini meliputi tema, latar, dan penokohan.

1 komentar:

  1. salam saudara, saya dari malaysia, saya juga sedang mebuat penelitian novel ini dari sudut budaya. saya melihat kajian saya ada persamaan dengan kajian saudara. hal ini tidak bagus untuk kajian akademik. justeru saya minta pendapat saudara, ada ngak cadangan untuk melakukan kajian terhadap novel ini menggunakan teori buday tetapi dari sisi yang berbeza daripada kajian saudara

    BalasHapus