Laman

Minggu, 08 Juli 2012

NAWANG WULAN (Subagio Sastrowardoyo); Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik


NAWANG WULAN
Karya: Subagio Sastrowardoyo
Dalam Tinjauan Struktural dan Semiotik
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Puisi
Pengampu: Adyana Sunanda

Disusun oleh:
Nama        : Luqmanul Hakim
NIM          : A 310 100 072

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan mentelaah sebuah karya sastra merupakan suatu cara untuk mengetahui seluk-beluk dalam suatu karya tersebut. Dalam teori pengkajian karya sastra puisi, terdapat beberapa tinjauan ataupun pendekatan yang bisa dilakukan. Diantara tinjauan-tinjauan tersebut adalah dengan tinjauan struktural dan tinjauan semiotik.
Tinjauan struktural atau pendekatan analitis yaitu suatu pendekatan yang mencoba memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan itu, dan memahami unsur-unsur intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur tersebut. Sehingga mampu membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk dan maknanya.
Sedangkan semiotik merupakan salah satu pendekatan yang sedang diminati oleh para ahli sastra dewasa ini, tidak terkecuali para peminat sastra di Indonesia. Akhir-akhir ini semakin banyak diterbitkan tulisan yang menggunakan model dan konsep dari semiotika.
Semiotik menurut Sudjiman (1996) adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Sudjiman, 1996: 5).
Semiotika adalah ilmu tanda; istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani semieon yang berarti “tanda”. Tanda terdapat dimana-mana: kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya.



PEMBAHASAN
A.    Nawang Wulan dalam Tinjauan Struktural.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.


1.      Struktur Lahir:
a.      Diksi / Diction
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
·         Sambut aku dengan bunga
·         Itu darah dari duka dan cinta
·         Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
·         Itu darah yang mengalir dari duka dan cinta

b.      Imaji / Imagery
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia (Imaji dengaran)
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa (Imaji rabaan)
·         Bunga buat kekasih yang manis merindu (Imaji cecapan)
·         Lalu panggil aku turun di teratakmu (Imaji dengaran)

c.       Kata Konkret
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
·         Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
·         Sambut aku dengan bunga
·         Lalu panggil aku turun di teratakmu

d.      Bahasa Figuratif / Majas / Gaya Bahasa
·         Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia (Sinekdok/Totemproparte)
·         Itu darah dari duka dan cinta (majas Personofikasi)
·         Bunga buat maut yang diam menunggu (majas Personofokasi)
·         Ladang minta digenang (majas Personifikasi)

e.       Irama & Rima / Rythme & Rime
·         A-A-A-A
·         A-A-B-B
·         A-A-B-A



2.      Struktur Bathin:
a.       Tema
Suatu penipuan dari laki-laki agar mendapatkan wanita yang disukainya, walaupun pada akhirnya penipuan itu terbongkar.

b.      Rasa
Rasa yang ingin disampaikan penyair dalam puisi ini adalah perasaan yang senang dan penuh kasih sayang, walaupun pada awalnya dan akhirnya diliputi oleh penyesalan.

c.       Nada
Penyair memiliki sikap yang lembut dalam puisi ini. Menyatakan ungkapan untuk dikasihi dan disayangi, juga untuk menyayangi.

d.      Amanat
Untuk menadapatkan sesuatu yang baik, hendaknya kita juga menggunakan cara-cara yang baik juga. Janganlah menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa mengindahkan yang lain.

  
B.     Nawang Wulan dalam Tinjauan Semiotika.
Nawang Wulan
(Yang melindungi Bumi dan Padi)
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.

·         Analisis
Tinjauan ini diawali dengan memperhatikan judul sajak tersebut. Karena judul ikut berperan dalam menjelaskan isi sajak. Judul adalah indeks bagi teks karena merupakan nama teks yang bersangkutan. Setelah membaca judul “Nawang Wulan”, segera saja timbul pertanyaan, apa itu Nawang Wulan? Atau mungkin siapa itu Nawang Wulan? Kata “Nawang Wulan” dapat ditinjau dari makna denotatifnya, yaitu “nama seorang bidadari dalam cerita Jaka Tarub”. Kisah dari Nawang Wulan tersebut ternyata dapat ditemukan dalam sajak, jika kita memperhatikan larik-larik berikut.
Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga
Kata “jangan” sangat identik dengan maksud larangan ataupun pencegahan dari suatu tindakan. Akan tetapi jata “jangan” dalam sajak ini lebih bermakna pada permohonan untuk melakukan suatu hal pada sesuatu dengan alasan dan tujuan tertentu. Dan makna disini adalah suatu permohonan untuk tidak bercakap dan berbicara menggunakan bahasa dunia, karena mungkin bahasa dunia itu dinilai kasar dan cenderung tidak baik jika dibandingkan dengan bahasa di surga yang semua serba sempurna. Disamping itu juga terdapat permohonan untuk tidak menyentuh yang disini bermakna menjamah ataupun menggauli. Karena mungkin tubuh orang di dunia ini penuh dengan dosa. Berbeda dengan para penghuni surga yang masih terjaga kesuciannya.
Sambut aku dengan bunga
Itu darah dari duka dan cinta
Pada potongan sajak ini kata “sambut aku dengan bunga” bukanlah berarti minta untuk disambut dengan menggunakan bunga, akan tetapi lebih mengarah pada suatu permohonan untuk menerima kedatangannya dengan kebaikan dan segala kemurahan hati, diperlakukan dengan baik, dan tidak disakiti ataupun yang lainnya. Karena itu merupakan suatu yang sangat berarti dalam kehudupan dan lebih dari segalanya. Apalah arti kesenangan dan kesuksesan tanpa cinta dan kasih sayang, tentunya hidup akan jadi serasa tak ada artinya.
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
Bunga buat kekasih yang manis merindu
Bunga buat maut yang diam menunggu
Kata “bunga” pada bari pertama dan kedua dalam potongan sajak di atas bisa diartikan sebagai suatu wujud kasih sayang dan cinta yang mendalam. Yaitu kasih sayang dan cinta untuk jiwa baru yang terlahir ke dunia yang fana dari alam lain yaitu alam rahim. Karena tentunya jiwa yang terlahir ke dunia pastilah membawa suatu amanah yang berat. Hal tersebut juga bisa diperuntukkan pada baris yang kedua yaitu “Bunga buat kekasih yang manis merindu”, yaitu suatu penghargaan kepada sang kekasih karena kesabaran dan kesetiaannya pada pujaan sang hati dengan segala kerinduan yang disimpannya. Yaitu segala kasih sayang dan cinta yang diperuntukkan pada sang kekasih.
Sedangkan untuk kata “Bunga” pada baris ketiga yang berbunyi “Bunga buat maut yang diam menunggu” pada potongan sajak di atas tidaklah bisa disamakan dengan makna kata “bunga” seperti pada baris yang sebelumnya. Makna kata “bunga” di sini lebih mengarah pada penghargaan dan suatu penghormatan bahkan suatu wujud penantian untuk maut atau kematian yang kelak pasti akan datang.
Tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru
Pada baris pertama potongan sajak ini bermakna pada himbauan untuk memperhatikan sang buah hati ketika dia menangis kelaparan, kapanpun dan bagaimanapun itu waktu dan keadaannya. Hal ini dikarenakan anak adalah suatu anugerah sekaligus sebagai amanah dari yang Maha Kuasa. Sedangkan pada baris kedua potongan sajak tersebut “Tapi jaga ladang yang baru sehari digaru” adalah suatu pernyataan yang mengingatkan agar jangan melupakan ladang sebagai sumber penghidupan. Karena ketika ladang tidak menghasilkan padi, maka padi yang di lumbung akan berangsur-angsur habis dan hal ini lah yang menjadikan Nawang Wulan menemukan selendangnya yang disembunyikan oleh Jaka Tarub dan menjadikannya pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk kembali ke khayangan. Walaupun pada akhirnya bangsa khayangan tidak bisa menerimanya kembali karena dia telah ternoda oleh manusia di bumi.
Anak minta ditimang
Lalu panggil aku turun di teratakmu
Ketika sang buah hati menangis, agar berhenti dari tangisannya salah satu cara adalah dengan di adalah gendong dan titimang-timang. Hal ini adalah mengkisahkan ketika Nawang Wulan sudah pergi meninggalkan suami dan bayinya. Sebelum kepergiannya Nawang Wilan berpesan kepada suaminya agar ketika nanti bayinya menangis ataupun minta susu, hendaknya Jaka Tarub memanggil Nawang Wulan untuk menyusui bayinya. Hal ini ada sangkut pautnya dengan baris kedua potongan syair di atas yang berbunyi “Lalu panggil aku turun di teratakmu”. Itu ngartikan tanda bahwa Nawang Wulan meminta suaminya Jaka Tarub untuk memanggilnya turun ketika bayinya menangis minta susu.
Dengan bunga. Itu darah yang mengalir
dari duka dan cinta.
Kata “Dengan bunga” ini bukanlah menggunakan bunga seperti yang sudah dibahas di atas. Tetapi merupakan satu isyarat bahwa dalam memperlakukannya adalah dengan perlakuan yang mulia, penuh dengan kasih sayang dan cinta. Sedangkan dalam kalimat “Itu darah yang mengalir dari duka dan cinta” ini bisa diartikan sebagai hal yang mutlak adanya. “Dari duka dan cinta” berarti perasaan cinta dan kasih sayang ini akan tetap selalu ada dalam setiap suka dan duka. Ketika senang dan bahagia ini akan tetap ada, demikian juga ketika dalam keaadaan duka dan susah hal ini juga tidak akan hilang.
  


PENUTUP
Daftar Pustaka
Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sudjiman, Panuti, Aart Van Zoest. 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar